Header Ads

Penyusutan SDF dan Jalan Persatuan Suriah

Kabar menyusutnya kekuatan Pasukan Demokratik Suriah atau SDF dari sekitar 100 ribu personel menjadi hanya sekitar 13 ribu memunculkan perdebatan baru tentang masa depan persatuan Suriah. Penyusutan ini dikaitkan dengan beralihnya sebagian besar anggota Arab SDF untuk mendukung pemerintah Suriah di Damaskus.

Selama bertahun-tahun, SDF dikenal sebagai koalisi bersenjata multietnis yang menjadi mitra utama Amerika Serikat di kawasan. Namun di balik citra tersebut, komposisi pasukan ini didominasi oleh anggota Arab, terutama di wilayah timur Sungai Efrat seperti Deir Ezzor, Raqqa, dan selatan Hasakah.

Struktur komando SDF sebagian besar dikendalikan oleh kader Kurdi yang berafiliasi dengan PYD-YPG. Sementara itu, pasukan Arab lebih banyak ditempatkan sebagai kekuatan tempur di lapangan, menjaga wilayah yang secara demografis mayoritas Arab.

Ketika loyalitas elemen Arab mulai goyah dan sebagian besar berpaling ke Damaskus, fondasi utama SDF ikut terguncang. Penyusutan hingga sekitar 13 ribu personel berarti SDF kehilangan keunggulan numerik yang selama ini menjadi kekuatannya.

Perpindahan dukungan anggota Arab ini dipandang sebagai perkembangan strategis yang signifikan bagi pemerintah Suriah. Secara sosiologis, wilayah timur Efrat yang selama ini berada di luar kendali penuh Damaskus mulai kembali condong ke negara.

Meski demikian, penyatuan Suriah tidak serta-merta terjadi secara otomatis. Pemerintah Suriah menghadapi tantangan besar dalam membangun kembali kepercayaan terhadap mantan anggota milisi yang sebelumnya berada di bawah payung proyek asing.

Bagi Damaskus, eks-anggota Arab SDF dipandang sebagai aset sekaligus risiko. Di satu sisi, mereka mengenal medan, masyarakat lokal, dan struktur suku. Di sisi lain, ada kekhawatiran tentang loyalitas ganda dan potensi infiltrasi.

Integrasi puluhan ribu mantan pejuang ke dalam struktur negara membutuhkan waktu dan mekanisme yang hati-hati. Pemerintah tidak dapat serta-merta merekrut mereka secara massal ke dalam tentara reguler tanpa proses penyaringan.

Selain aspek keamanan, faktor ekonomi juga menjadi penentu. Banyak anggota Arab SDF sebelumnya bergabung karena faktor penghidupan, bukan ideologi. Tanpa solusi ekonomi, dukungan mereka kepada Damaskus berpotensi bersifat sementara.

Kehadiran Amerika Serikat masih menjadi faktor penghambat utama penyatuan penuh Suriah. Selama AS mempertahankan pangkalan militernya dan pengaruh udara di timur laut Suriah, ruang gerak Damaskus tetap terbatas.

Namun, melemahnya SDF dari dalam memberikan keuntungan strategis tanpa harus melalui konfrontasi militer besar. Pemerintah Suriah dapat menggunakan pendekatan politik, suku, dan ekonomi untuk mengonsolidasikan wilayah.

Pengalaman Damaskus di wilayah lain seperti Daraa dan Ghouta Timur menunjukkan pola serupa. Alih-alih kemenangan cepat, pemerintah mengandalkan strategi jangka panjang untuk menguras kekuatan lawan secara bertahap.

Dalam konteks ini, penyusutan SDF menandai perubahan status dari aktor nasional menjadi kekuatan regional terbatas. Tanpa basis Arab, SDF sulit mempertahankan kendali atas wilayah mayoritas Arab.

Perubahan ini juga berdampak pada proyek federalisme yang selama ini dikampanyekan oleh PYD. Gagasan pemerintahan multietnis kehilangan legitimasi ketika mayoritas Arab tidak lagi terlibat aktif.

Meski demikian, tidak semua eks-anggota Arab SDF otomatis menjadi pendukung setia pemerintah. Sebagian mungkin memilih netral, sementara yang lain berpotensi membentuk struktur bersenjata lokal berbasis suku.

Risiko fragmentasi ini tetap menjadi pekerjaan rumah bagi Damaskus. Penyatuan teritorial harus diikuti dengan penyatuan politik dan sosial agar stabilitas jangka panjang dapat tercapai.

Bagi SDF yang tersisa, situasi ini mempersempit pilihan. Tanpa dukungan demografis Arab, ketergantungan pada perlindungan asing menjadi semakin besar.

Di tingkat regional, perubahan keseimbangan ini memperlemah posisi tawar SDF dalam negosiasi apa pun terkait masa depan Suriah. Damaskus kini memiliki argumen lebih kuat untuk menuntut kedaulatan penuh.

Secara keseluruhan, menyusutnya SDF dan bergesernya dukungan Arab membuka peluang nyata bagi penyatuan Suriah. Namun peluang ini masih bergantung pada waktu, kehadiran aktor asing, dan kemampuan negara mengelola rekonsiliasi.

Persatuan Suriah tampak lebih dekat dibandingkan beberapa tahun lalu, tetapi jalan menuju stabilitas penuh tetap panjang dan sarat tantangan.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.