Skala Dana dan Politik Rekonstruksi Gaza
Rencana rekonstruksi pascakonflik di Timur Tengah kembali menjadi sorotan setelah muncul perbandingan angka-angka fantastis yang mencerminkan perbedaan prioritas dan pendekatan politik. Suriah diperkirakan membutuhkan dana hingga 400 miliar dolar AS untuk bangkit dari kehancuran perang panjang, sementara Gaza justru diperbincangkan dalam konteks pembangunan “New Gaza” dengan kebutuhan sekitar 25 miliar dolar AS.
Angka 400 miliar dolar untuk Suriah mencerminkan skala kehancuran yang hampir menyentuh seluruh aspek kehidupan. Kota-kota besar hancur, infrastruktur dasar lumpuh, jutaan rumah rusak, dan sektor industri, energi, serta layanan publik praktis harus dibangun ulang dari nol.
Rekonstruksi Suriah bukan hanya soal membangun gedung dan jalan, tetapi juga memulihkan sistem negara yang runtuh akibat lebih dari satu dekade perang. Rumah sakit, sekolah, jaringan listrik, air bersih, hingga sistem transportasi nasional memerlukan investasi jangka panjang yang sangat besar.
Sebaliknya, rencana New Gaza yang dipromosikan oleh Jared Kushner dan didukung oleh gagasan Board of Peace diperkirakan membutuhkan sekitar 25 miliar dolar AS hingga 2035. Dana tersebut disebut akan digunakan untuk membangun utilitas modern, layanan publik, kawasan ekonomi, dan infrastruktur dasar.
Secara nominal, perbedaan angka ini sangat mencolok. Dana New Gaza hanya sekitar satu perenam belas dari kebutuhan rekonstruksi Suriah. Namun, perbedaan ini bukan sekadar soal luas wilayah atau tingkat kehancuran, melainkan juga soal pendekatan politik internasional.
New Gaza digambarkan sebagai proyek terfokus, dengan visi menjadikan wilayah pesisir itu sebagai pusat ekonomi baru. Investasi diarahkan pada kawasan terbatas, dengan orientasi pertumbuhan ekonomi, pariwisata, dan jasa, bukan rekonstruksi total sebuah negara.
Sementara itu, Suriah menghadapi hambatan besar berupa sanksi internasional, ketidakpastian politik, dan belum adanya konsensus global tentang legitimasi pemerintahnya. Faktor-faktor ini membuat dana rekonstruksi Suriah sulit terealisasi meski kebutuhannya diakui luas.
Perbandingan menjadi semakin menarik jika disejajarkan dengan rencana Arab Saudi menyelesaikan Jeddah Tower beserta infrastruktur pendukungnya, yang diperkirakan menelan biaya sekitar 26 miliar dolar AS. Angka ini hampir setara dengan total anggaran New Gaza.
Jeddah Tower, yang dirancang menjadi gedung tertinggi di dunia, merepresentasikan proyek prestise dan simbol ambisi ekonomi. Investasi besar ini difokuskan pada satu kawasan, dengan tujuan memperkuat citra global dan menarik investasi serta pariwisata.
Fakta bahwa satu proyek gedung dan kawasan bisnis dapat menelan biaya setara dengan rencana transformasi seluruh Gaza menegaskan betapa berbeda skala dan orientasi kebijakan pembangunan di kawasan tersebut.
Dalam konteks ini, New Gaza berada di antara dua ekstrem. Di satu sisi, ia jauh lebih kecil dibandingkan rekonstruksi Suriah yang bersifat nasional dan menyeluruh. Di sisi lain, anggarannya setara dengan proyek mercusuar seperti Jeddah Tower yang tidak terkait langsung dengan krisis kemanusiaan.
Hal ini memunculkan pertanyaan tentang prioritas global. Mengapa konflik sebesar Suriah membutuhkan ratusan miliar dolar namun sulit direalisasikan, sementara proyek Gaza dengan visi ekonomi baru relatif lebih mudah mendapatkan dukungan konsep dan politik.
Sebagian analis menilai New Gaza dirancang sebagai proyek yang “terkendali”. Dengan wilayah kecil dan konsep ekonomi yang jelas, proyek ini dianggap lebih menarik bagi investor dibandingkan rekonstruksi Suriah yang sarat risiko politik.
Namun kritik pun muncul. Dana 25 miliar dolar dinilai terlalu kecil jika dibandingkan dengan tingkat kehancuran dan penderitaan warga Gaza akibat konflik berkepanjangan. Pembangunan modern dikhawatirkan hanya menyentuh sebagian wilayah dan tidak menjawab trauma sosial yang mendalam.
Perbandingan dengan Suriah memperjelas risiko tersebut. Rekonstruksi fisik tanpa rekonsiliasi politik dan keadilan sering kali tidak berkelanjutan, dan hal yang sama bisa terjadi di Gaza.
Sementara itu, contoh Jeddah Tower menunjukkan bagaimana stabilitas politik dan kepastian hukum memungkinkan proyek bernilai puluhan miliar dolar berjalan, meski sempat tertunda. Faktor stabilitas inilah yang sering tidak dimiliki wilayah konflik.
Dengan kata lain, besaran dana bukan satu-satunya penentu keberhasilan. Konteks politik, legitimasi, dan penerimaan masyarakat menjadi faktor krusial yang menentukan apakah investasi akan benar-benar mengubah kehidupan warga.
New Gaza, dengan anggaran setara proyek ikon global, berpotensi menjadi kota modern di atas kertas. Namun tanpa penyelesaian status politik Palestina, proyek tersebut berisiko menjadi simbol ketimpangan baru.
Suriah menunjukkan sisi lain dari persoalan. Kebutuhan dana yang sangat besar justru menjadi penghalang, karena dunia enggan berinvestasi tanpa perubahan politik yang jelas.
Perbandingan tiga angka ini, 400 miliar, 25 miliar, dan 26 miliar dolar, pada akhirnya mencerminkan realitas keras geopolitik. Dunia lebih mudah membiayai proyek terukur dan simbolik daripada menyelesaikan konflik struktural.
Di tengah perdebatan ini, pertanyaan mendasarnya tetap sama. Apakah pembangunan ekonomi dapat menggantikan keadilan politik, atau justru hanya menunda masalah yang lebih dalam.
Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah New Gaza kelak dikenang sebagai awal pemulihan, atau sekadar proyek mahal yang berdiri di atas konflik yang belum benar-benar usai.


Post a Comment