Yaman: Gerakan Selatan Dukung Langkah Gubernur Hadramaut Bersihkan Markas Milisi
Gerakan Selatan Yaman atau Southern Movement kembali menjadi sorotan setelah munculnya pernyataan dukungan sebagian faksinya terhadap keputusan presiden Yaman (PLC) untuk mengakhiri kehadiran Uni Emirat Arab. Sikap ini menegaskan kembali bahwa gerakan yang lahir sejak 2007 tersebut bukanlah satu entitas tunggal, melainkan jaringan luas yang terfragmentasi secara politik, ideologis, dan organisatoris.
Ini terkait upaya Gubernur Hadramaut yang mendapat mandat dari Presiden Rashad Al Alimi untuk memimpin Nation Shield, semacam Satpol PP, untuk membersihkan Hadramat dari milisi STC.
Dalam konteks inilah nama Dr. Hussein Al-Yafei muncul sebagai tokoh penting. Ia menjabat sebagai Ketua Al-Hirak Al-Watani Al-Janoubi, sebuah faksi yang menempatkan dirinya dalam jalur politik formal dan secara terbuka mendukung legitimasi presiden serta Dewan Kepemimpinan Presiden atau PLC. Posisi ini membuatnya sering dianggap sebagai representasi Southern Movement, meski pada kenyataannya hanya memimpin satu arus saja.
Southern Movement sejak awal terbentuk sebagai respons terhadap marginalisasi Selatan pasca penyatuan Yaman 1990. Namun seiring waktu, ia berkembang menjadi spektrum luas yang mencakup kelompok moderat, kelompok separatis radikal, hingga faksi yang memilih bekerja dalam kerangka negara. Perbedaan strategi inilah yang kemudian melahirkan banyak “hirak” dengan agenda masing-masing.
Al-Hirak Al-Watani Al-Janoubi yang dipimpin Al-Yafei menonjol karena menolak militerisasi politik Selatan. Faksi ini melihat bahwa persoalan Selatan tidak bisa diselesaikan dengan dominasi senjata, tetapi melalui rekonsiliasi nasional, reformasi negara, dan negosiasi politik. Karena itu, mereka relatif dekat dengan PLC dan institusi pemerintahan resmi.
Berbeda jauh dengan itu, Dewan Transisi Selatan atau STC tampil sebagai kekuatan paling dominan di Selatan secara militer. STC berhasil mengonsolidasikan pasukan bersenjata, menguasai Aden, dan membangun struktur mirip negara yang berfungsi layaknya pemerintahan de facto. Inilah yang membuat STC sering dipersepsikan publik sebagai wajah utama Southern Movement, meski secara formal ia hanyalah salah satu faksi.
Perbedaan ideologi antara Al-Hirak Al-Watani dan STC sangat tajam. Al-Yafei dan kelompoknya tidak menutup pintu pada solusi federal atau bahkan persatuan dengan jaminan keadilan. Sementara STC sejak awal mengusung proyek negara Selatan merdeka dengan pendekatan realisme kekuatan di lapangan.
Fragmentasi ini membuat Southern Movement sulit berbicara dengan satu suara. Ketika satu faksi mendukung keputusan presiden, faksi lain justru melihatnya sebagai ancaman terhadap proyek politik mereka. Akibatnya, setiap pernyataan tokoh Selatan kerap disalahartikan sebagai sikap kolektif, padahal realitasnya jauh lebih kompleks.
Peta faksi Southern Movement hari ini setidaknya terbagi ke dalam tiga poros besar. Pertama, poros negara yang diwakili Al-Hirak Al-Watani Al-Janoubi dan tokoh-tokoh sipil Selatan yang bekerja dengan PLC. Kedua, poros STC yang mengandalkan kontrol teritorial dan legitimasi bersenjata. Ketiga, poros tradisional dan lokal yang masih cair, terfragmentasi berdasarkan suku dan wilayah.
Ketegangan antara poros pertama dan kedua semakin menguat sejak STC memperluas pengaruhnya ke wilayah Timur seperti Hadramaut dan Shabwa. Ekspansi ini menimbulkan resistensi dari elit lokal Selatan sendiri, yang tidak ingin wilayahnya dikendalikan dari Aden oleh struktur militer STC.
Dalam konteks ini, posisi Al-Yafei menjadi penting secara simbolik. Ia mewakili narasi alternatif bahwa tidak semua Selatan berada di bawah komando STC. Dukungan faksinya terhadap keputusan presiden menunjukkan adanya cadangan legitimasi Selatan di luar proyek STC.
Bagi STC, posisi Al-Hirak Al-Watani bukan ancaman militer, tetapi ancaman politik. Faksi seperti Al-Yafei berpotensi menjadi jembatan antara pemerintah pusat dan masyarakat Selatan, sekaligus menggerus klaim STC sebagai satu-satunya representasi rakyat Selatan.
Perbedaan ini juga memengaruhi cara publik internasional membaca isu Selatan. Aktor eksternal kerap kesulitan membedakan antara Southern Movement sebagai gerakan sosial historis dan STC sebagai aktor politik bersenjata kontemporer. Fragmentasi internal ini menjadi tantangan besar dalam diplomasi Yaman.
Dalam jangka pendek, dominasi STC di lapangan masih menjadi fakta yang tidak bisa diabaikan. Namun dalam jangka menengah, legitimasi politik akan semakin penting, terutama jika proses politik nasional kembali berjalan. Di titik inilah faksi-faksi non-militer seperti Al-Hirak Al-Watani berpeluang memainkan peran lebih besar.
Ke depan, masa depan Southern Movement sangat bergantung pada apakah ia akan terus terfragmentasi atau menemukan formula representasi bersama. Tanpa itu, setiap faksi akan terus berbicara atas nama Selatan secara sepihak, memperdalam perpecahan internal.
Bagi PLC, keberadaan Al-Hirak Al-Watani merupakan peluang strategis untuk menunjukkan bahwa negara masih memiliki mitra di Selatan. Ini juga menjadi cara untuk menyeimbangkan dominasi STC tanpa konfrontasi langsung.
Sementara itu, STC dihadapkan pada dilema antara memperluas kekuasaan militer atau mengonsolidasikan legitimasi politik yang lebih inklusif. Tanpa dialog dengan faksi-faksi Selatan lainnya, klaim representasinya akan terus dipertanyakan.
Southern Movement hari ini bukan lagi satu gerakan, melainkan arena kontestasi antar narasi. Narasi negara, narasi separatis, dan narasi lokal bersaing menentukan arah Selatan Yaman di tengah krisis nasional yang berkepanjangan.
Dalam kondisi seperti ini, setiap pernyataan tokoh Selatan harus dibaca secara kontekstual. Dukungan Al-Yafei terhadap keputusan presiden adalah suara satu faksi, bukan suara kolektif Selatan. Namun justru di situlah maknanya: Selatan tidak monolitik.
Jika proses politik nasional mampu menampung pluralitas ini, fragmentasi bisa berubah menjadi kekuatan tawar. Namun jika diabaikan, perpecahan internal akan terus dimanfaatkan oleh aktor bersenjata.
Akhirnya, pertanyaan utama bukan siapa memimpin Southern Movement, melainkan model kepemimpinan apa yang akan diterima masyarakat Selatan. Antara dominasi senjata atau konsensus politik, pilihan inilah yang akan menentukan masa depan Selatan dan Yaman secara keseluruhan.
Pernyataan dukungan yang disampaikan Ketua Ø§Ù„ØØ±Ø§Ùƒ الوطني الجنوبي, Dr. Hussein Al-Yafei, terhadap keputusan presiden Yaman untuk mengakhiri keberadaan Uni Emirat Arab menegaskan posisi politik faksi ini sebagai bagian dari arus Selatan yang memilih bekerja dalam kerangka legitimasi negara. Sikap tersebut menunjukkan bahwa tidak seluruh kekuatan Selatan berada pada garis politik yang sama dengan Dewan Transisi Selatan, serta menegaskan adanya faksi yang melihat stabilitas nasional dan otoritas presiden sebagai rujukan utama penyelesaian krisis Yaman.
Pada saat yang sama, apresiasi Al-Yafei terhadap sikap kuat Saudi yang berpihak pada الشرعية mencerminkan upaya membangun keseimbangan politik baru di Selatan pasca meredanya pengaruh UEA. Pernyataan ini mengirim sinyal bahwa Ø§Ù„ØØ±Ø§Ùƒ الوطني الجنوبي ingin memainkan peran sebagai jembatan antara aspirasi Selatan dan pemerintahan pusat, sekaligus membuka ruang politik alternatif di luar pendekatan militer yang selama ini mendominasi dinamika Selatan Yaman.


Post a Comment