Poros Kejahatan Dinilai Hancurkan Kawasan Arab
Media sosial Timur Tengah hari ini ramai memperbincangkan narasi yang mengaitkan Uni Emirat Arab, Israel, dan Amerika Serikat sebagai poros yang membawa kehancuran di kawasan Arab. Percakapan ini muncul setelah beredarnya pernyataan Yasin ‘An ad-Din yang menekankan peran masing-masing negara dalam konflik regional. Pernyataan itu menyebut Israel sebagai otak perencana, UEA sebagai penyandang dana dan pelaksana, dan Amerika sebagai pemilik proyek.
Reaksi warganet terhadap pernyataan ini sangat luas. Di Twitter dan Telegram, tagar terkait poros UEA-Israel-AS menjadi trending, terutama di kalangan pengguna dari Yaman, Palestina, dan Libya. Video dan grafis yang menampilkan peta konflik serta ikon simbol negara masing-masing tersebar secara viral, memperkuat narasi bahwa ketiga negara memiliki agenda bersama di wilayah Arab.
Para pengamat media sosial menyebut fenomena ini sebagai contoh bagaimana opini publik Timur Tengah terbentuk melalui narasi visual dan retorik yang sederhana namun keras. Meski tidak selalu akurat secara politik, cara penyajian yang singkat memudahkan pesan tersebar luas dan memicu diskusi publik.
Di Facebook dan Instagram, akun-akun aktivis politik menambahkan komentar dan meme, menekankan “poros kejahatan” sebagai penyebab kekacauan di Yaman, Suriah, dan Libya. Konten ini sering kali menggabungkan citra militer, bandara, pelabuhan, dan peta wilayah yang disengketakan, memberi kesan narasi ini bersifat faktual.
Di sisi lain, analisis akademik mencoba menekankan bahwa meskipun narasi itu populer, realitas politik jauh lebih kompleks. Israel, AS, dan UEA tidak selalu bergerak serentak atau sepenuhnya sejalan. Kepentingan Amerika bersifat global, Israel lebih fokus pada keamanan nasional, sedangkan UEA memiliki agenda regional yang pragmatis dan ekonomi.
Namun masyarakat lokal lebih memilih melihat narasi ini secara simbolik. Mereka menilai bahwa konflik berkepanjangan, kekerasan, dan fragmentasi negara Arab memang terjadi dengan dampak yang nyata, sehingga tiga aktor eksternal tersebut menjadi target retorika dan kemarahan publik.
Platform media sosial pun berperan sebagai alat amplifikasi opini. Video singkat, poster, dan kutipan teks Arab beredar dengan cepat, mendorong reaksi emosional dari berbagai kalangan. Beberapa akun bahkan menambahkan peta yang menunjukkan wilayah konflik dan keberadaan militer UEA di Yaman serta dukungan intelijen Amerika kepada Israel.
Telegram, khususnya, menjadi ruang utama bagi penyebaran narasi ini di kalangan aktivis dan pengguna yang menghindari sensor. Grup-grup dengan ribuan anggota membagikan analisis, komentar, dan prediksi skenario politik, menghubungkan peran tiga negara dengan kehancuran sosial dan ekonomi yang terjadi.
Di sisi lain, media tradisional Arab juga meliput topik ini, meski dengan gaya lebih moderat. Stasiun TV regional menayangkan liputan yang menekankan bagaimana pengaruh eksternal memperburuk konflik internal, menggunakan narasi serupa namun dengan bahasa lebih netral dibanding media sosial.
Akibatnya, narasi ini menyebar ke platform internasional, menarik perhatian pengamat politik Barat yang menganalisis persepsi publik Timur Tengah. Mereka menilai bahwa meski narasi sederhana ini tidak sepenuhnya akurat, pengaruhnya terhadap opini publik sangat kuat.
Dalam konteks Yaman, narasi ini diperkuat oleh pengalaman nyata warga terhadap konflik yang melibatkan UEA, terutama melalui Dewan Transisi Selatan (STC). Warganet lokal menampilkan foto dan video pangkalan militer UEA, kamp milisi, dan kegiatan logistik sebagai bukti keterlibatan langsung.
Sementara di Palestina, narasi ini muncul seiring normalisasi hubungan Israel–UEA, yang memicu protes dan kampanye online menekankan bahwa ketiga negara tersebut bertindak sebagai “poros kejahatan” di kawasan. Hashtag dan meme yang viral menekankan kehancuran yang ditimbulkan terhadap hak rakyat Palestina.
Di Libya, narasi yang sama digunakan untuk menyoroti keterlibatan UEA dan dukungan AS terhadap pasukan tertentu dalam perang saudara, sekaligus menegaskan Israel sebagai perencana strategis di balik kebijakan regional.
Kekuatan media sosial terlihat pada kemampuan narasi ini menyatukan berbagai isu menjadi satu cerita kohesif. Meskipun tiap negara memiliki konteks dan konflik berbeda, narasi poros UEA-Israel-AS menyederhanakan semua peristiwa menjadi pola tunggal yang mudah dipahami publik.
Narasi semacam ini juga memperlihatkan pergeseran opini publik dari skeptisisme lokal ke perspektif global. Pengguna di Mesir, Yaman, dan Maroko membandingkan situasi domestik mereka dengan konflik yang melibatkan tiga negara ini, menciptakan pemahaman bersama tentang pengaruh eksternal di Timur Tengah.
Beberapa analis mencatat bahwa narasi ini dapat memicu polarisasi. Mereka yang menolak intervensi luar negeri menggunakannya untuk menggalang dukungan dan memobilisasi opini publik, sedangkan kelompok yang pro-stabilitas pragmatis terkadang merasa narasi ini berlebihan atau menyederhanakan fakta.
Di media sosial, narasi ini sering dibumbui istilah emosional dan simbolik seperti “poros kejahatan”, “kehancuran”, dan “agenda tersembunyi”, yang memperkuat persepsi ancaman eksternal sekaligus menimbulkan sentimen anti-Barat, anti-UEA, dan anti-Israel.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana konten visual, teks singkat, dan retorika sederhana dapat membentuk opini publik lebih cepat daripada analisis mendalam atau liputan media tradisional.
Banyak pemuda di wilayah konflik mengekspresikan kemarahan mereka melalui meme, stiker digital, dan grafis infografis. Ini menjadi bentuk aktivisme digital yang menggantikan sebagian peran protes fisik di tengah kondisi perang dan keamanan yang ketat.
Meski begitu, beberapa pengamat mengingatkan bahwa narasi ini tidak sepenuhnya akurat secara politik. Realitas hubungan internasional jauh lebih rumit, dan ketiga negara kadang memiliki kepentingan yang bertentangan.
Namun bagi banyak pengguna media sosial di Timur Tengah, narasi ini cukup untuk membentuk identitas politik dan persepsi musuh bersama. Israel, UEA, dan Amerika diwakili sebagai simbol kekuatan eksternal yang dianggap bertanggung jawab atas kehancuran regional.
Akhirnya, fenomena ini memperlihatkan kekuatan media sosial sebagai arena politik alternatif. Narasi, opini, dan simbol yang tersebar secara viral membentuk pemahaman publik yang sangat berbeda dari liputan resmi atau diplomasi internasional.
Contohnya
Yasin ‘An ad-Din dalam pernyataannya menyoroti apa yang ia sebut sebagai “poros kejahatan” di Timur Tengah, yang terdiri dari Israel, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat. Ia menggambarkan Israel sebagai otak perencana, yang merancang strategi geopolitik dan militer di kawasan Arab, sementara UEA berperan sebagai pendana dan pelaksana, mengeksekusi rencana melalui dana, logistik, dan dukungan militer di lapangan. Amerika, menurutnya, adalah pemilik proyek, pihak yang menetapkan arah dan memberi legitimasi global terhadap agenda tersebut. Pernyataan ini menekankan bahwa ketiga aktor eksternal memiliki peran berbeda namun saling melengkapi dalam mempengaruhi konflik di wilayah Arab.
Dalam konteks pernyataannya, Yasin ‘An ad-Din menyampaikan pesan kritik keras terhadap intervensi asing, khususnya di Yaman dan wilayah konflik lain. Ia menggunakan retorika yang kuat untuk menegaskan bahwa campur tangan ketiga negara ini membawa kehancuran dan merusak stabilitas sosial-politik di Arab. Narasinya ini sangat populer di media sosial Timur Tengah, karena menyederhanakan konflik kompleks menjadi “poros tunggal” yang dianggap bertanggung jawab atas penderitaan rakyat lokal, sekaligus menjadi alat mobilisasi opini publik terhadap intervensi asing.


Post a Comment