Perbandingan Sistem Pemerintahan Swiss dan Lainnya
Swiss dikenal sebagai negara yang unik di dunia karena sistem politiknya yang sangat berbeda dari negara modern lain. Negara ini dibangun atas fondasi konfederasi kanton, masing-masing memiliki otonomi tinggi, namun tetap tergabung dalam satu negara federal. Konsep ini lahir dari kebutuhan bertahan hidup para kanton yang saling berbeda budaya, bahasa, dan tradisi sejak abad ke-13.
Awalnya Swiss bukan satu negara, melainkan sekumpulan kota dan desa pegunungan yang mandiri. Mereka menghadapi ancaman eksternal dari Austria dan Habsburg sehingga memutuskan membentuk aliansi pertahanan bersama. Aliansi inilah yang menjadi cikal bakal Swiss modern. Setiap kanton mempertahankan hukum sendiri, milisi sendiri, serta sistem pajak sendiri. Pemerintah pusat hanya mengurusi pertahanan dan diplomasi.
Seiring waktu, Swiss berkembang menuju federasi yang lebih terstruktur. Pada tahun 1848, konstitusi federal memperkuat lembaga pusat, tetapi tetap menjaga otonomi kanton. Pusat hanya menangani urusan nasional seperti militer, kebijakan fiskal makro, dan hubungan luar negeri. Kanton tetap memiliki hak veto melalui mekanisme referendum, sehingga keputusan federal harus mendapat persetujuan rakyat.
Swiss saat ini memiliki 26 kanton dengan bahasa yang berbeda-beda, termasuk Jerman, Prancis, Italia, dan Romansh. Perbedaan bahasa dan budaya tidak menjadi penghalang, justru menjadi kekuatan karena sistem federasi memberikan rasa aman bagi kanton. Penduduk Swiss mencapai sekitar 8,7 juta jiwa, tersebar merata di seluruh kanton, meski ada perbedaan densitas populasi.
Dibandingkan dengan Bosnia-Herzegovina, Swiss lebih homogen dalam stabilitas federasi. Bosnia memiliki tiga entitas utama: Federasi Bosnia-Herzegovina, Republika Srpska, dan Distrik Brčko. Sistem Bosnia menekankan kesetaraan etnis, namun sering mengalami kebuntuan politik karena konflik antara kelompok etnis. Swiss berhasil mengelola perbedaan bahasa dan budaya melalui kompromi dan demokrasi langsung.
Keberhasilan Swiss dalam menjaga stabilitas juga terkait dengan sistem milisi. Setiap kanton memiliki milisi lokal, dan pusat hanya mengkoordinasikan pertahanan gabungan saat diperlukan. Hal ini memungkinkan setiap wilayah tetap aman tanpa membebani pemerintah federal. Pajak dikumpulkan di tingkat kanton, sementara pusat menerima kontribusi tetap untuk membiayai pertahanan dan diplomasi.
Sistem Swiss ini bisa menjadi inspirasi bagi Yaman. Sebelum bersatu menjadi Yaman Selatan pada 1967, wilayah selatan terdiri dari berbagai kesultanan dan sheikhdom, termasuk Kesultanan Qu’aiti dan Kathiri. Masing-masing memiliki struktur pemerintahan sendiri, milisi, dan sistem pajak lokal. Kesultanan ini bertahan selama masa kolonial Inggris dengan otonomi tinggi.
Hadramaut, Mahra, Lahej, dan wilayah lain memiliki identitas politik yang kuat, mirip kanton Swiss. Mereka mengatur urusan internal, pendidikan, dan keamanan tanpa campur tangan pusat Inggris. Hanya urusan pertahanan eksternal dan hubungan diplomatik dengan kolonial yang diatur bersama. Sistem ini mencerminkan model konfederatif yang mirip Swiss, di mana pusat hanya menangani isu strategis.
Saat Yaman Selatan terbentuk, kesultanan-kesultanan ini dilebur menjadi republik sosialis. Semua monarki lokal dihapuskan, dan pemerintah pusat mengambil alih seluruh fungsi pemerintahan, termasuk pajak, militer, dan kebijakan ekonomi. Langkah ini menghapus otonomi yang selama berabad-abad dijalankan secara efektif di tingkat lokal.
Jika dibandingkan Swiss, Yaman kehilangan fleksibilitas. Swiss mempertahankan otonomi kanton sambil tetap menjaga negara tunggal. Yaman Selatan menghapus monarki, sehingga tercipta republik pusat yang kuat, tetapi rapuh secara fiskal dan administratif. Konsep kanton Swiss menawarkan pelajaran bahwa otonomi lokal yang kuat bisa meningkatkan stabilitas dan efektivitas pemerintahan.
Dari sisi demografi, Yaman Selatan memiliki populasi jauh lebih besar dari kanton Swiss. Hadramaut saja memiliki sekitar 1,3 juta orang saat awal abad ke-20, sedangkan kanton Swiss rata-rata 300–400 ribu. Perbedaan ini menunjukkan bahwa penerapan model federasi ala Swiss di Yaman memerlukan mekanisme koordinasi yang lebih kompleks.
Selain itu, keberagaman budaya dan bahasa di Yaman lebih ekstrem. Wilayah selatan berbicara berbagai dialek Arab, memiliki tradisi adat berbeda, dan struktur sosial kabilah yang kuat. Swiss berhasil menyeimbangkan perbedaan bahasa dan agama, sementara Yaman Selatan menghadapi kesulitan mengintegrasikan adat dan monarki yang berbeda menjadi satu republik sosialis.
Sistem pajak Swiss juga menarik. Kanton mengelola pajak mereka sendiri dan menyumbangkan sebagian untuk pusat. Ini mengurangi ketergantungan federal pada utang atau transfer dari kanton. Jika Yaman mengadopsi sistem serupa, pusat dapat hidup dari kontribusi tetap untuk pertahanan dan diplomasi, sementara daerah tetap membangun infrastruktur dan layanan publik secara mandiri.
Milisi lokal di Swiss memberikan keamanan internal tanpa mengandalkan tentara federal. Di Yaman Selatan, milisi lokal awalnya dimiliki oleh kesultanan, tetapi dihapus oleh pemerintah pusat, sehingga pemerintah baru harus membangun militer dan polisi dari awal. Ini membuat republik baru sering kekurangan kapasitas keamanan dan rentan terhadap konflik internal.
Dalam konteks hubungan internasional, Swiss berhasil menjaga identitas federal sambil menjadi negara netral. Pusat bertanggung jawab atas diplomasi, tetapi kanton tetap memiliki kebebasan ekonomi dan budaya. Yaman Selatan tidak memiliki opsi netral yang jelas, karena konflik regional memaksa pusat ikut campur dalam urusan diplomatik dan pertahanan.
Sistem politik Swiss juga mengandalkan demokrasi langsung. Setiap keputusan penting dapat diajukan referendum, dan kanton memiliki hak veto terhadap sebagian keputusan federal. Mekanisme ini menjaga keseimbangan kekuasaan antara pusat dan daerah, serta memberikan rasa aman bagi kanton. Jika diterapkan di Yaman, daerah seperti Hadramaut atau Mahra bisa menolak kebijakan pusat yang merugikan mereka.
Sejarah Swiss menunjukkan bahwa federasi yang efektif lahir dari kompromi dan kebutuhan bersama, bukan paksaan. Kanton tetap mempertahankan identitasnya, bahasa, dan hukum lokal, sementara pusat cukup kuat untuk urusan strategis. Yaman Selatan bisa belajar dari ini bahwa menghapus semua monarki dan otonomi bisa menimbulkan kelemahan administratif dan fiskal.
Selain itu, Swiss berhasil mengelola perbedaan budaya dan agama tanpa konflik berkepanjangan. Kanton dengan bahasa dan tradisi berbeda hidup berdampingan karena sistem hukum yang memberikan otonomi signifikan. Yaman Selatan, sebaliknya, sering menghadapi ketegangan antara wilayah karena pusat mencoba memaksakan keseragaman.
Model Swiss juga menarik dari sisi ekonomi. Kanton yang kaya dapat membiayai pembangunan lokal sendiri tanpa tergantung pada federal. Pusat mendapat kontribusi tetap untuk hal-hal strategis. Ini membuat ekonomi lokal lebih cepat berkembang dan mengurangi korupsi pusat.
Dalam konteks Yaman modern, skenario “Yaman Swiss Arab” bisa diadopsi dengan memberikan otonomi luas kepada bekas kesultanan, sementara pemerintah pusat mengurus pertahanan, diplomasi, dan mata uang. Pajak pusat tetap minimum, dan daerah bebas mengelola ekonomi mereka sendiri.
Kesimpulannya, Swiss menawarkan contoh nyata bagaimana konfederasi berhasil, menjaga identitas lokal, stabilitas politik, dan ekonomi yang mandiri. Sebelum bergabung menjadi Yaman Selatan, kesultanan-kesultanan Yaman memiliki potensi serupa dengan kanton Swiss, namun dihapus oleh republik baru. Jika diterapkan kembali, model ini bisa menjadi solusi untuk stabilitas Yaman dengan otonomi maksimal bagi daerah.
Setiap Kanton Punya Presiden dan Parlemen Sendiri
Swiss memiliki 26 kanton, masing-masing dengan struktur pemerintahan sendiri dan parlemennya. Kanton-kanton ini beragam dari segi bahasa dan budaya, termasuk Jerman, Prancis, Italia, dan Romansh. Perbedaan bahasa dan budaya tidak menjadi penghalang, karena sistem federal memberikan rasa aman bagi kanton untuk mengatur urusan internalnya.
Setiap kanton memiliki dewan eksekutif yang disebut Regierungsrat (bahasa Jerman) atau Conseil d’État (bahasa Prancis). Dewan ini berfungsi sebagai pemerintahan eksekutif kanton, mengurus administrasi, ekonomi, pendidikan, dan keamanan lokal. Kepala dewan inilah yang berperan sebagai kepala kanton.
Di kanton berbahasa Jerman, kepala kanton disebut Landammann.
Landammann dipilih dari anggota dewan eksekutif untuk masa jabatan tertentu, biasanya satu tahun, dan jabatan ini bersifat rotasi. Kepala kanton memimpin rapat eksekutif, mewakili kanton di tingkat federal, tetapi keputusan kolektif tetap diutamakan.
Di kanton berbahasa Prancis, kepala kanton disebut Président du Conseil d’État, atau Presiden Dewan Negara. Jabatan ini memiliki fungsi setara Landammann: memimpin dewan eksekutif kanton, menjaga administrasi, dan mewakili kanton di forum federal.
Di kanton berbahasa Italia, kepala kanton disebut Presidente del Consiglio di Stato. Fungsinya sama seperti Landammann dan Présient du Conseil d’État, menekankan kepemimpinan kolektif, rotasi jabatan, dan representasi kanton.
Setiap kepala kanton memiliki peran signifikan dalam koordinasi kebijakan dengan pemerintah federal, meskipun pusat hanya menangani isu strategis seperti pertahanan, diplomasi, dan moneter. Hal ini mirip model “Yaman Swiss Arab” yang memberikan otonomi penuh kepada daerah.
Dewan Federal Swiss terdiri dari 7 anggota, yang secara kolektif bertindak sebagai kepala negara. Tidak ada presiden permanen; jabatan Presiden Konfederasi dipilih setiap tahun secara rotasi dari anggota dewan. Presiden hanya memimpin rapat dan mewakili negara di luar negeri, tidak memiliki kekuasaan lebih dibanding anggota lain.
Dengan sistem ini, Swiss memastikan kolektivitas dalam eksekutif dan mencegah dominasi satu individu. Hal ini berbeda dengan negara republik sentralistik, tetapi memberikan stabilitas politik yang tinggi.


Post a Comment